Sebagai Manusia yang Berdaulat, Act of Free Choice dibutuhkan

Act of free choice

Sebagai manusia yang berdaulat, act of free choice dibutuhkan. Sejak lahir, manusia sudah berikan keistimewaan oleh Tuhan agar bisa berbicara. Tuhan menciptakan mulut bagi manusia untuk mengekspresikan perasaan dirinya. Dari bayi kita bisa lihat, ketika ia menangis ia sedang mengekspresikan dirinya sendiri. Begitu juga jika bayi sedang tertawa, ia berarti sedang mengekspresikan kesenangannya.

Beranjak bertambahnya umur, pengekspresian menjadi lebih komplek. Tidak hanya dilakukan dengan cara tertawa dan menangis saja. Namun bisa berbicara dengan lengkap. Seseorang semakin besar akan bisa mengekspresikan hidup dan pilihannya. Bahkan tanpa ada yang menyuruh mereka antusias akan selalu mengatakan apa yang menjadi pilihannya. Jika sesuatu cocok dengan dia maka orang tersebut akan mengatakannya dan hal itu tidak dilarang.

Act of free choice menjadi keuntungan tersendiri bagi manusia. Mereka yang mengutarakan pilihan atau suaranya, setidaknya akan didengar oleh orang lain. Tinggal orang lain apakah ingin merespon atau tidak. Terkadang diantara kita orang-orang hanya bisa mendengarkan tanpa bisa merespon apa yang ada. Suara-suara lantang tentang suatu pilihan hanya menjadi suara tanpa tujuan dan hal yang berarti.

Act of free choice
Act of free choice

Kemirisan tentang kebebasan bersuara sudah di ujung tanduk. Jaman sekarang tidak terlalu preventif tentang kebebasan bersuara daripada jaman dahulu. Akan tetapi tidak adanya respon sama saja membuat keadaan seperti jaman dahulu. Kecuali jika suara-suara tentang kebebasan tersebut didengarkan maka tidak ada yang sia-sia.

Act of free choice terkadang hanya dimiliki oleh suatu golongan saja. Biasanya kebebasan bersuara dan langsung didengar dimiliki oleh orang-orang bertahta dan berharta.

Dengan tahta dan harta ucapan orang tersebut bisa didengar sampai ke ujung penjuru negeri sekali. Walaupun ucapannya salah, jika ada uang maka ucapan tersebut bisa bersambung terus menerus.

Dahulu bagi orang timur, act of free choice sulit didapatkan. Jangankan tersebar ke penjuru negeri, untuk sampai menyebar di pulau mereka saja sudah susah. Sebenarnya bukan hanya teknologi yang kurang berkembang, namun orang-orangnya saja yang harus saling merespon. Jika satu sama lain saling merespon, maka akan menghasilkan tatanan yang baik. Walaupun berbeda suara namun bisa saja terdengar apalagi jika menyatukan sebuah suara.

Terkadang diskriminasi kelompok juga membuat suara orang-orang timur tidak didengar. Padahal Tuhan sudah mengijinkan orang untuk bersuara. Maka dari situlah hak kemanusiaan tentang kebebasan bersuara ada dan diciptakan. Seharusnya kebebasan bersuara tidak dikotak-kotakkan melalui dari sudut pandang mana pun. Jika masih ada batas-batas dari kelompok tentang kebebasan bersuara, tentu ada permasalahan besar di dalamnya.

Sekali lagi, act of free choice merupakan hak yang diperoleh oleh semua orang atau golongan. Tidak ada pengklarifikasian antara orang timur atau orang barat. Semua bebas berpendapat, sekali orang tersebut dari golongan timur.