Dieng Culture Festival, Pemotongan Rambut Gimbal Anak Dieng

Dieng_Culture_Festival

Pernahkah kamu mendengar tentang acara pemotongan rambut gimbal anak – anak sebagai simbol penyucian di daerah Dieng? Semenjak tahun 2010, kamu bisa secara langsung melihat prosesi tersebut pada Dieng Culture Festival.

Baca tulisan ini hingga akhir jika kamu ingin mengetahui tentang sejarah  dari Dieng Culture Festival, agenda yang ada di dalamnya dan informasi – informasi menarik lainnya mengenai festival ini.

Sejarah Dieng Culture Festival

Dieng culture festival merupakan festival tahunan yang biasa dilaksanakan pada bulan Agustus, saat Dieng sedang dalam kondisi dingin dinginnya. Sebelum adanya festival ini, sebenarnya sudah diselenggarakan event Pekan Budaya Dieng secara rutin selama beberapa tahun.

Setelah Pekan Budaya Dieng berjalan selama beberapa tahun, terbentuklah sebuah kelompok yang bernama Kelompok Sadar Wisata atau Pokdarwis. Pokdarwis inilah yang kemudian mengubah nama dari Pekan Budaya Dieng menjadi yang sekarang kita kenal sebagai Dieng Culture Festival (DCF) ini.

Festival ini menjadi daya tarik wisata bagi Dieng dan juga Provinsi Jawa Tengah karena banyak masyarakat luar Dieng yang secara sengaja datang ke Dieng untuk dapat menghadiri, melihat dan berpartisipasi pada festival yang dilaksanakan setiap tahun ini.

Tidak hanya turis domestik atau lokal, turis mancanegara juga bahkan datang dan ikut meramaikan festival DCF ini, lho! Maka dari itu, kamu juga harus turut berkontribusi demi berkembangnya pariwisata dan sebagai salah satu usaha untuk pelestarian budaya ini.

Acara yang Terdapat Pada Dieng Culture Festival

Festival yang dilaksanakan selama 3 hari dan rutin setiap tahun ini memiliki beberapa acara, dimana beberapa acara yang terkenal di antaranya adalah:

  1. Upacara ruwatan

Upacara ruwatan memiliki tujuan untuk dapat menjauhkan malapetaka, marabahaya, dan juga kesialan. Dalam upacara ruwatan ini, prosesi yang dilakukan adalah dengan memotong rambut gimbal dari anak asli Dieng.

Anak berambut gimbal atau yang sering disebut gembel ini sendiri memiliki cerita yang menarik. Tanpa diketahui alasannya dan bukan merupakan kesengajaan, rambut anak – anak yang berusia 40 hari hingga dengan 6 tahun ini gimbal alami dan bukan merupakan buatan atau diciptakan.

Masyarakat Dieng sendiri memiliki kepercayaan bahwa rambut gimbal tersebut merupakan titipin dari penguasa alam gaib dan rambut gimbal tersebut baru bisa dipotong jika sang anak meminta untuk dipotong dimana permintaan tersebut harus dipenuhi.

Sebelum acara puncak yaitu acara pemotongan rambut dimulai, terdapat ritual doa di berbagai tempat yang harus dilaksanakan terlebih dahulu. Ritual doa tersebut dilakukan di Komplek Candi Arjuna, Candi Dwarawati, Candi Gatotkaca, Sendang Maerokoco, Candi Bima, Kawah Sikidang, Kali Pepek, Gua di Telaga Warga, dan juga pemakaman Dieng.

Setelah itu kemudian puncak acara dilakukan pada keesokan harinya setelah anak – anak berambut gimbal tersebut di kirab hingga menuju tempat pelaksanaan cukur dengan dikawal oleh tokoh masyarakat, sesepuh, kelompok paguyuban seni tradisional dan juga masyarakat.

Upacara ruwatan ini menjadi alasan utama mengapa Dieng culture festival menjadi daya tarik masyarakat karena selain keunikan rambut gimbal alami dari para anak asli Dieng tapi juga merupakan pertunjukan atau upacara adat yang mengusung nilai seni dan budaya yang tinggi.

  1. Festival lampion

Sebelumnya, selalu ada penerbangan lampion secara bersama – sama yang disebut sebagai festival lampion. Festival lampion ini digemari oleh para pengunjung karena selain membuat pemandangan langit yang indah, mereka dapat berpartisipasi dalam acara tersebut.

Namun festival tersebut tidak dilaksanakan lagi semenjak tahun 2020 karena mempertimbangkan faktor keamanan dari penerbangan. Lampion yang diterbangkan bersama – sama ditakutkan akan mengganggu aktivitas pesawat terbang yang sedang melaju melewati langit Dieng.

Selain itu juga tumpukan sampah yang selalu ada setelah pelaksanaan festival ini menjadi hal yang disoroti, meskipun bukan merupakan alasan utama tidak dilaksanakannya lagi festival lampion ini kedepannya.

  1. Jazz atas awan

Kamu pasti sudah mengetahui bahwa Dieng terkenal sebagai negeri di atas awan karena terletak di dataran tinggi dan memiliki udara dengan suhu yang dingin. Mengusung hal tersebut, DCF melangsungkan konser Jazz Atas Awan yang dilaksanakan pada malam hari yang kemudian menjadi event nasional.

Musisi yang tampil di Jazz Atas Awan ini juga merupakan musisi kondang yang tentu saja dikenal secara luas sehingga kamu pasti akan dapat ikut bernyanyi dan menikmati suasana malam hingga berburu momen sunrise di Dieng.

Setelah menikmati konser jazz, kamu bisa menikmati pemandangan Kawah Sikidang, Candi Arjuna, dan juga Telaga Warna yang terkenal itu dengan santai sambil ditemani dengan secangkir kopi hangat.

Festival ini selalu ditunggu oleh masyarakat dari tahun ke tahun karena menyuguhkan perpaduan dari berbagai sektor seni dan budaya. Misalnya seni tradisi, kekayaan musik, dan juga hal – hal baru lainnya yang sifatnya menyenangkan. Ditambah lagi, dikelilingi dengan pemandangan Dieng yang indah.