Mengenal Perbedaan Aqiqah dan Qurban Serta Dasar Hukumnya

Ketidaksamaan pendapat mengenai aqiqah dan qurban hingga saat ini masih bagus sekali untuk dibahas. Karena secara nyata baik qurban atau aqiqah sama sebagai beribadah menyembelih hewan. Disamping itu, pun tidak ditetapkan apa tipe kelamin hewan itu, jantan ataukan betina. Baik qurban atau aqiqah sama dihukumi sunnah muakad. Yakni sunnah yang paling disarankan untuk dikerjakan. Bila kita mengeruk berkenaan ketidaksamaan aqiqah dan qurban karena itu harus tahu beberapa poin keutamaan lebih dulu. Ke-2 nya bisa pelajari dimulai dari pemahaman, arah, tipe hewan, waktu penerapan, jumlah hewan, jumlah penerapan yang danjurkan, tehnis pemberian daging, bentuknya pemberian dan upan untuk penyembelih qurban dan aqiqah.

Pemahaman Aqiqah dan Qurban

Pada materi pertama silahkan kita mengenali aqiqah dan qurban dari sisi pemahaman. Makna aqiqah secara bahasa datang dari susunan kata aqqa – yauqqu – aqqan yang memiliki arti menggunting. Kata menggunting dalam aqiqah diartikan dengan acara yang bermacam, salah satunya menggunting hewan aqiqah dan menggunting rambut bayi. Sedang untuk menerangkan pengertian aqiqah menurut isitilah fiqih ialah menyembelih hewan dalam rencana merealisasikan rasa sukur ke Allah atas kelahiran bayi. Yang prosesinya dibarengi dengan pemangkasan rambut bayi dan penamaan. Seterusnya pemahaman dari qurban. Secara bahasa qurban datang dari rangkaian kaca qaraba – yaqrabu – qurbanan waa wirbanan yang memiliki arti dekat. Maknanya bqrqurban bermakna dekatkan diri pada Allah yang salah satunya triknya dengan menyembelih hewan qurban. Sedang dalam istilah fiqih qurban disimpulkan sebagai acara pemotongan hewan untuk dekatkan diri pada Allah yang sudah dilakukan di tanggal 10, 11, 12, 13 bulan Dzulhijjah. Disini telah terinci jika aqiqah dan qurban benar-benar berlainan, aqiqah untuk mensyukuri hari kelahiran sedang qurban sebagai fasilitasn dekatkan diri pada Allah secara detail.

Dasar Hukum Qurban dan Aqiqah dan Makna Syukuran Aqiqah

Bicara berkenaan dasar hukum qurban dan aqiqah ke-2 nya mempunyai arah syariat yang lain. Alasan qurban dan aqiqah juga berlainan dalam al-Quran dan hadits. Beribadah qurban itu bercermin pada periode Nabi Ibrahim dan anaknya Ismail yang saat itu tetap belia. Allah mengetes Nabi Ibrahim untuk menyembelih anaknya sendiri. Disini narasi haru itu diawali, di mana kesabaran, ketegasan, dan ketaatan yang harus betul-betul kuat.

Kejadian ini sudah didokumentasikan dalam al-Qur’an yang satu diantaranya ada di Q.S as-Shafaat ayat 102 yang maknanya:

“Karena itu ketika sudah tiba anak itu (sudah baligh) dan usaha dengannya. Berbicara (Ibrahim), “wahai anakku benar-benar saya mimpi dalam tidur benar-benar saya menyembelihmu. Karena itu pikirkanlah apa pendapatmu!” menjawab (Ismail), “wahai bapakku lakukanlah apa yang diperintah, Insya Allah kamu akan merasakanku masuk ke kelompok beberapa orang yang sabar”.

Sampai hingga proses pemotongan Allah menukar Nabi Ismail dengan domba putih besar langsung Allah turunkan dari surga.

Dalam ayat lain disebut yakni:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

Maknanya: “Karena itu shalatlah untuk Tuhanmu dan berkurbanlah”

Untuk alasan berkenaan penerapan aqiqah sendiri ada dalam hadits Nabi yang mengeluarkan bunyi:

حَدَّثَنَا أَبُو النُّعْمَانِ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ عَنْ أَيُّوبَ عَنْ مُحَمَّدٍ عَنْ سَلْمَانَ بْنِ عَامِرٍ قَالَ مَعَ الْغُلَامِ عَقِيقَةٌ وَقَالَ حَجَّاجٌ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ أَخْبَرَنَا أَيُّوبُ وَقَتَادَةُ وَهِشَامٌ وَحَبِيبٌ عَنْ ابْنِ سِيرِينَ عَنْ سَلْمَانَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ غَيْرُ وَاحِدٍ عَنْ عَاصِمٍ وَهِشَامٍ عَنْ حَفْصَةَ بِنْتِ سِيرِينَ عَنْ الرَّبَابِ عَنْ سَلْمَانَ بْنِ عَامِرٍ الضَّبِّيِّ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَوَاهُ يَزِيدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ عَنْ ابْنِ سِيرِينَ عَنْ سَلْمَانَ قَوْلَهُ وَقَالَ أَصْبَغُ أَخْبَرَنِي ابْنُ وَهْبٍ عَنْ جَرِيرِ بْنِ حَازِمٍ عَنْ أَيُّوبَ السَّخْتِيَانِيِّ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ حَدَّثَنَا سَلْمَانُ بْنُ عَامِرٍ الضَّبِّيُّ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَعَ الْغُلَامِ عَقِيقَةٌ فَأَهْرِيقُوا عَنْهُ دَمًا وَأَمِيطُوا عَنْهُ الْأَذَى

Dari posisi sanad di atas dijumpai sebuah matan hadits yang berisi “Pada anak ada kewajiban untuk aqiqah, karena itu potongkanlah hewan hewan sebagai aqiqah dan buanglah terburukan darinya.” (HR. Bukhori. No 5049).

Hingga menggunting hewan dalam rencana sukur atas nikmat Allah dan supaya si anak terbebas dari terburukan ialah makna syukuran aqiqah.

Perbedaan Jumlah Dan Jenis Hewan yang Disembelih

Sesudah anda ketahui ketidaksamaan aqiqah dan qurban karena itu jumlah hewan yang disembelih berlainan. Saat kurban satu kambing ditujukan untuk seseorang saja, bisa lelaki atau wanita. Sedang dalam aqiqah satu kambing untuk wanita dan dua kambing untuk lelaki. Disamping itu, saat wurban bisa memakai kambing, unta, sapi, dan kerbau. Sedang aqiqah cuman bisa kambing atau domba saja. entahlah jantan atau betina tidak jadi permasalahan.

Waktu Penerapan

Dilihat dari waktu pemotongan hewan baik aqiqah atau kurban sangat berlainan. Ibada qurban harus dikerjakan pas di tanggal 10, 11, 12, 13 Dzulhijjah. Yakni hari raya idul Adha dan 3 hari sesudahnya. Sedang penerapan aqiqah lebih bagus dikerjakan saat hari ke-7 kelahiran. Ini berdasar pada hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Hakim, jika Rasulullah pernah beraqiqah untuk cucunya yakni Hasan dan Husain di hari ke-7 kelahirannya. Disamping itu beliau memberikan nama dan memerintah agar di hilangkan kotoran dari kepalanya. Tetapi balik lagi ke hukum aqiqah yakni sunnah muakad, hingga yang belum sanggup melakukan aqiqah di hari itu. Karena itu hukumnya bisa dilaksanakan pada hari lain. Disamping itu acara aqiqah sama sesuai sunnah harus juga penuhi persyaratan dan rukun aqiqah itu. jika salah satunya persyaratan atau rukun ada yang belum tercukupi, karena itu aqiqah tidak syah.

Mengapa Harus Aqiqah?

Lalu tiap anak yang sudah lahir mengapa harus aqiqah? Mengapa kurang cukup dengan syukuran seperti umumnya tak perlu menyembelih hewan aqiqah? Pada intinya selai sebagai bentuk sukur, ada beberapa makna yang dapat diambil dari beribadah itu, yakni:

  • Anak ialah anugrah dalam keluarga, dengan beraqiqah karena itu Anda sudah usaha merealisasikan rasa sukur ke Allah. Disamping itu, ada keinginan juga jika anak yang sudah lahir itu jadi penerus yang shaleh dan shalehah.
  • Orang yang melakukan aqiqah karena itu sudah usaha mencontoh sikap dan karakter nabi
  • Di saat aqiqah mengajari untuk berbagi ke sama-sama. Ditambahkan lagi ajak orang bergabung dalam kebaikan wujud usaha untuk memperkuat tali bersilahturahmi

Aqiqah dikerjakan dimulai dari pilih hewan, menyembelihnya, proses mengolah sampai share. Ke-4 proses itu memang meletihkan bila dilaksanakan sendirian. Tetapi saat ini anda tak perlu cemas kembali, karena sudah ada jasa service aqiqah yang siap menolong.