Seganas Apa Varian Virus AY.4.2 Menurut Pakar UGM?

 

Banyaknya jenis virus mutasi dari Covid-91 membuat sebagian pakar atau ahli terus memantau segala kasusnya. Faktanya, ini tidak berbeda dari sebuah permainan, siapa lebih cepat berkembang untuk mengalahkan lainnya.

Karena seperti halnya manusia, virus belajar mengenai kekebalan, adaptasi lingkungan bahkan target sasarannya. Dalam prosesnya, pakar UGM menginfokan bila varian AY. 4.2 belum terbukti lebih ganas dan menular.

Varian Virus AY.4.2 Belum Terbukti Lebih Ganas

Salah satu universitas terbaik di Indonesia, tepatnya Yogyakarta yaitu UGM, dalam kelompok kerja Genetik Fakultas Kedokteran Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK) mengutarakan pendapatnya pada khalayak.

Ketua kelompok kerja (PokJa) dari bidang itu memberitahu pada masyarakat bahwa varian A.Y.4.2 belum terbukti lebih ganas dan dapat menularkan banyak sasaran dengan estimasi cepat.

Mutasi alamiah yang terjadi pada virus tidaklah selalu lebih mematikan. Gunaidi selaku penanggung jawab mengatakan, jika AY.4.2 belum menunjukan bukti kuat akan menggusur posisi induknya sebagai ancaman paling berbahaya.

Induk yang dimaksud adalah varian Delta (B.1.617.2). Kurangnya riset juga data yang ada tidak bisa mendukung jelas asumsi publik mengenai varian asal Inggris ini.

Gunaidi juga menjelaskan, peningkatan penularan yang terjadi di negara maju tersebut tidak sepenuhnya karena AY.4.2. Kelonggaran protokol kesehatan dan kurangnya mentaati peraturan juga bisa dijadikan penyebabnya.

Terlepas dari itu semua, Gunaida meminta pemerintah untuk tetap memastikan perketatan perbatasan, setelah dengan adanya kabar varian ini telah masuk ke Malaysia.

Ketua dari FKKMK UGM itu juga mengatakan, jika Covid-19 belum benar-benar terkendali. Sehingga protokol kesehatan di antara masyarakat harus diperkuat hingga kekebalan komunal terwujud.

Fakta Mengenai Varian Virus AY.4.2

Dalam mewujudkan misi pemerintah yaitu mematikan secara permanen penularan virus Covid-19, masyarakat harus tetap ikut andil disetiap aktivitas sehari-harinya. Seperti, mengenakkan masker, mencuci tangan hingga melakukan vaksinasi.

Untuk lebih dapat mewaspadai virus yang ada disekitar, ada baiknya mengenal sedikit jauh lagi tentang faktanya. Salah satu yang tengah hangat diperbincangkan ini merupakan varian AY.4.2.

Tersebar kabar jika AY.4.2 sempat menginfeksi jauh lebih sering dan banyak pada kasus yang terjadi di Inggris. Menggusur posisi Delta sebagai induk paling berbahaya saat itu.

AY.4.2 bermutasi dari varian Delta Subvarian, dan langsung meningkatkan rasa waspada masyarakat. Dan masuk ke dalam daftar variant of concern pada Mei 2021, virus ini berhasil menimbulkan banyak asumsi buruk.

Badan kesehatan dunia (WHO) sendiri menginfokan jika virus ini telah menyebar setidaknya ke 42 negara dibelahan dunia. Beberapa di antaranya, Inggris, India, Israel, Amerika Serikat, dan Rusia.

Tetapi, dari kelima negara dominan yang ditemukan AY.4.2 dalam kasusnya, Inggris masih menduduki posisi teratas. Sebanyak 96 persen dari infeksi yang ada.

Kabar buruk yang simpang siur mengenai AY.4.2 ini membuat masyarakat semakin resah untuk beraktivitas. Terlebih, setelah riwayat kasusnya banyak yang berujung dengan kematian.

Namun, tidak perlu terlalu khawatir lagi, karena vaksin yang beredar saat ini dikatakan masih efektif untuk menekan perkembangan virus ini cepat menular.

Perbedaan Antara Kedua Varian Virus

Meski berasal dari dari induk yang sama, ada perbedaan cukup kentara bila dijabarkan. Sehingga, kasus peningkatan angka terinfeksi di inggris karena AY.4.2 ini belum bisa dibenarkan.

Dua perbedaannya ada pada protein yang terkandung di dalamnya, yaitu Y145H dan A222V. Tidak memiliki mutasi dalam domain pengikat reseptornya.

Komponen ini berfungsi sebagai pengikat reseptor tertentu pada sel manusia ketika menginfeksi. Sehingga, WHO sendiri masih menganalisa lebih jauh virus varian ini.

Seperti UK Health Security Agncy, melansirkan, bila sekalipun menular, varian Ay.4.2, tidak meningkatkan risiko rawat inap. Namun, lembaga itu menambahkan jika faktor seperti usia dan sudah tidaknya vaksinasi mempengaruhi.

Terlepas dari itu semua, kesadaran masyarakat atas diri masing-masing tetap prioritas utama demi menekan perkembangan virus ini merajai dunia.