Wisata Arung Jeram Semakin Digemari di Indonesia

Itulah sepenggal syair lagu Indonesia Permai karya Dr Janner Sinaga. Lagu yang menggambarkan Indonesia sebagai negeri yang punyai alam yang terlalu latif. Disana, pohon nyiur yang melambai-lambai tengah menyanyikan lagu-lagu pantai. Sungguh, berasal dari lagu itu kesan romantis konkret terasa. Dan, negeri permai ini makin tak terlupakan oleh mereka yang dulu mengunjunginya.
Indonesia, itulah negeri permai itu. Tanahnya fertile alamnya pun kaya. Kekayaannya tidak sekedar gara-gara emas dan permata. Ribuan sungai yang mengalir berasal dari celah gunung biru melengkapi kekayaan itu. Sungai-Sungai itu memberi kesempatan hidup kepada sejumlah makhluk. Cuman saja, masih sporadis anak bangsa ini nikmati ayunan arus beserta jeram-jeram terjal disepanjang genre sungai itu.
Sungai-Sungai berair jernih itu meliuk-liuk menembus celah gunung bercadas terjal. Celah itu tidak sebatas sebentuk batu cadas yang penuh tegakan pohon. Cadas itu sengaja memberi ruang bagi air untuk konsisten mengalir dan mengalir bersama dengan deras. Keliru satunya adalah Sungai Ayung, sungai yang terpanjang di Propinsi Bali.
Panjang Sungai Ayung ini kurang lebih 68,5 Km. Airnya berasal berasal dari tiga anak sungai dan berakhir di Pantai Sanur. Ketiga anak sungai itu adalah Tukad Bangkung yang berhulu di Pelaga, Tukad Menggani berhulu di area Catur dan Tukad Siap berhulu di tempat Kintamani

Sungai yang dahulunya hanyalah sebagai sumber air tempat tinggal tangga dan pertanian, kini kegunaan ekonominya bertambah. Sungai yang melintasi kawasan Ubud itu memberi lapangan kerja kepada tak terhitung orang. Sungai yang berada di dasar cadas tersebut, kini jadi keliru satu obyek wisata alam paling diminati. Di sungai itulah Indonesia permai sanggup dirasakan.
Begitu tersohornya potensi wisata Sungai Ayung, maka yang mampir kesana berasal berasal dari beraneka bangsa. Disana terlihat orang berwajah Eropa, Amerika, Australia, Asia Timur lebih-lebih paras Indonesia tak kalah segudang. Semuanya terlihat terlampau nikmati estetika hutan hujan tropis berasal dari permukaan Sungai Ayung. Padahal, untuk merasakan permainya Indonesia diatas permukaan Sungai Ayung, tiap-tiap orang perlu membayar Us$ 79.
Mahal? Tentu, tapi harga sebesar itu jadi kecil manakala alam dan manusia manunggal lewat wisata rafting di Sungai Ayung. Faktanya, para peminat wisata rafting ini bukan berkurang, malah berlimpah yang antri menanti giliran. Begitulah, ketika pesona dan kekuatan tarik alam Indonesia yang permai sudah menyatu didalam diri mereka.
Sebagai anak bangsa berasal dari negeri yang bernama Indonesia permai, umumnya belum dulu nikmati sensasi menyatu bersama dengan alam, ditengah hutan hujan tropis. Bagaimanakah rasanya? Terhadap lepas 10 Oktober 2014 lalu, saya mendapatkan kesempatan untuk wisata rafting terbaik di Sungai Ayung.
Hari itu, saya dan sembilan orang blogger didrop di suatu base camp penyedia jasa rafting di pedesaan kawasan Ubud. Bersama perlengkapan life jacket, helm dan dayung, kita menuruni 300-An anak tangga lewat hutan hujan tropis. Bunyi jangkrik, burung-burung dan fauna hutan lainnya layaknya sengaja mengucapkan selamat mampir kepada kita.
Beginikah nyamannya berlangsung ditengah hutan yang masih asri? Bilakah saya masih mampu menyelusuri hutan hujan tropis di bagian lain berasal dari tanah Indonesia? Pantas, wisatawan mancanegara amat menyukai berada di sedang hutan perawan. Sungguh tak terceritakan rasanya, yang tentu seluruh kasus hidup seolah terlupakan kala berada disana.